NusaTribune.com /Jakarta, 10 April 2026 – Di tengah dinamika metropolitan Jakarta yang serba cepat, Nahdlatul Ulama (NU) menyimpan potensi raksasa yang belum sepenuhnya terkelola. Menyambut momentum Halal Bihalal Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta yang akan diselenggarakan pada Sabtu, 11 April 2026 di Kantor PWNU II Jakarta Selatan, KH. Agus Muslim, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Utara, menyerukan agar NU Jakarta bertransformasi menjadi “rumah besar” yang menaungi seluruh warga nahdliyin tanpa sekat.
Dalam wawancara eksklusifnya, KH. Agus Muslim menyoroti bahwa Jakarta adalah miniatur Indonesia. Warga NU dari berbagai suku dan daerah—mulai dari Jawa, Madura, Sumatera, hingga Kalimantan—berkumpul di ibu kota. Namun, banyak di antara mereka yang aktif di majelis taklim atau komunitas sosial belum terhubung secara struktural dengan organisasi.
“NU Jakarta harus menjadi rumah besar seluruh nahdliyin. Rumah yang terbuka, yang merangkul semua, baik yang sudah aktif di struktur maupun yang belum. Kita tidak boleh membiarkan ada warga NU yang merasa tersisih atau tidak terwadahi,” tegas KH. Agus Muslim di Jakarta, Jumat (10/4).
Pembenahan Struktur Hingga Akar Rumput
Selain visi inklusif, KH. Agus Muslim juga menekankan urgensi pembenahan struktur organisasi dari tingkat atas hingga ke akar rumput. Ia mengakui bahwa masih terdapat kelemahan dalam konsolidasi kelembagaan di tingkat Majelis Wakil Cabang (MWC), Ranting, hingga Anak Ranting di beberapa wilayah DKI Jakarta.
“Kita harus jujur melihat kenyataan. Masih ada kepengurusan yang belum berjalan optimal, baik dari sisi administrasi, program kerja, maupun kaderisasi. Ini adalah pekerjaan rumah bersama yang harus segera diselesaikan,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan struktur bukan sekadar formalitas organisasi, melainkan kunci untuk memastikan pelayanan umat berjalan efektif dan kader-kader muda NU dapat tumbuh dengan baik di lingkungan perkotaan.
Menjaga Relevansi di Tengah Masyarakat Kota
Menghadapi tantangan sosial Jakarta yang kompleks—mulai dari urbanisasi, perubahan gaya hidup, hingga dinamika sosial keagamaan—KH. Agus Muslim menilai NU memiliki modal kuat untuk tetap relevan. Tradisi keilmuan pesantren, nilai-nilai moderasi beragama (wasathiyah), dan jaringan sosial yang luas adalah aset strategis yang harus dikelola dengan pendekatan dakwah yang adaptif.
“NU memiliki tradisi keilmuan, kebudayaan, dan moderasi yang sangat kuat. Tinggal bagaimana kita mengelola potensi itu agar tetap relevan dan menyejukkan di tengah masyarakat kota yang penuh tekanan,” katanya.
Halal Bihalal sebagai Momentum Konsolidasi
KH. Agus Muslim memandang acara Halal Bihalal PWNU DKI Jakarta mendatang bukan sekadar tradisi tahunan pasca-Lebaran, melainkan momentum strategis untuk memperkuat ukhuwah dan menyatukan langkah perjuangan.
“Halal bihalal ini harus menjadi ruang dialog untuk membangun NU Jakarta yang lebih solid. Jika kita bersama-sama berkomitmen, insyaallah NU Jakarta benar-benar menjadi rumah besar yang nyaman bagi seluruh nahdliyin,” pungkasnya optimis.
Dengan semangat baru ini, PCNU Jakarta Utara dan jajaran PWNU DKI Jakarta berharap dapat mengonsolidasikan ribuan warga nahdliyin di ibu kota untuk berkontribusi lebih nyata bagi kemaslahatan umat dan bangsa.
Tentang Nahdlatul Ulama (NU)
Nahdlatul Ulama adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia yang berdiri sejak 1926. NU berkomitmen pada pengamalan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, dengan fokus pada pendidikan, sosial kemasyarakatan, dan dakwah yang moderat serta toleran.













