Nature Forum 2026 hadir sebagai platform dialog dan kolaborasi lintas sektor guna memperkuat arah kebijakan nasional terkait ekonomi hijau, energi terbarukan, dan pembangunan rendah karbon. Melalui sesi diskusi, keynote speech, serta forum interaktif, acara ini mendorong sinergi kebijakan, investasi hijau, serta inovasi teknologi lingkungan agar mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan dan inklusif.
Sejalan dengan Asta Cita Presiden serta arah pembangunan dalam RPJPN 2025–2045 dan RPJMN 2025–2029, ekonomi hijau diposisikan sebagai strategi memperkuat ketahanan nasional dan kemandirian energi, sekaligus mendukung pencapaian Net Zero Emission 2060. Komitmen tersebut juga tercermin dalam APBN 2026, di mana ketahanan energi dialokasikan sebesar Rp402,4 triliun untuk memastikan transisi energi berjalan terarah dan berkelanjutan.
Dalam sesi diskusi bertajuk “Transisi Energi dan Masa Depan EV: Dari Ambisi Jadi Implementasi”, Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK hadir sebagai pembicara bersama Ronny Afrianto, Wakil Presiden Komersialisasi Produk Niaga PT PLN (Persero); Welfizon Yuza, Direktur Utama PT Transportasi Jakarta; serta Paul Butarbutar, Sekretaris Jenderal METI. Diskusi ini menyoroti pentingnya konsistensi kebijakan, kesiapan infrastruktur, integrasi rantai pasok, serta kepastian investasi jangka panjang dalam mendorong industri kendaraan listrik (EV) dan energi bersih agar benar-benar terimplementasi di lapangan, bukan sekadar menjadi ambisi kebijakan.
Dalam konteks tersebut, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) merupakan salah satu instrumen kebijakan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung investasi dan pengembangan industri berbasis keberlanjutan.
Melalui pelayanan perizinan terpadu satu pintu, fasilitas fiskal dan non-fiskal, serta dukungan infrastruktur kawasan, KEK memberikan dukungan terhadap masuknya investasi di berbagai sektor strategis, termasuk industri kendaraan listrik dan energi baru terbarukan.
“Dalam pengembangan industri EV, terdapat beberapa tantangan yang perlu terus diperbaiki. Dari sisi perizinan, dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025, sistem OSS masih memerlukan penyesuaian agar selaras dan terintegrasi sepenuhnya dengan ketentuan terbaru.
Di sisi lain, konsistensi kebijakan antar Kementerian dan Lembaga juga perlu terus diperkuat agar koordinasi lintas sektor dapat saling mendukung,” ujar Sekjen Edwin.
Ia menambahkan bahwa ketersediaan energi bersih yang kompetitif dan andal menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan dan daya saing industri kendaraan listrik.
Pada tahun 2025, realisasi ekspor di seluruh KEK tercatat mencapai Rp54,83 triliun, dan beberapa kontributor ekspor tersebut berasal dari kegiatan usaha yang bergerak di industri baterai dan komponen kendaraan listrik.
Di KEK Kendal, terdapat pelaku usaha yang memproduksi material anoda dan katoda baterai, sementara di KEK Gresik berkembang copper foil tembaga yang menopang kebutuhan komponen baterai kendaraan listrik. Kehadiran pelaku usaha tersebut mencerminkan penguatan hilirisasi mineral strategis sekaligus peningkatan nilai tambah industri dalam negeri.
Seiring dengan penguatan ekosistem industri kendaraan listrik di sisi hulu, kesiapan infrastruktur di sisi hilir menjadi faktor kunci keberhasilan transisi energi. Welfizon Yuza, Direktur Utama PT Transportasi Jakarta, menegaskan, “PR kita adalah SPKLU harus diperbanyak dan tentu nantinya jika nanti ada alternatif lain menggunakan hidrogen yang perlu kita pastikan adalah stasiun pengisiannya ini benar-benar harus reliable.” ujarnya.
Forum ini menegaskan bahwa keberhasilan transisi energi dan pengembangan industri hijau memerlukan kolaborasi lintas kementerian, dunia usaha, lembaga riset, serta pemerintah daerah. Konsistensi kebijakan dan integrasi regulasi menjadi faktor kunci agar ekonomi hijau mampu memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan keberlanjutan lingkungan.
Komitmen tersebut juga tercermin dalam arah kebijakan sektor ketenagalistrikan nasional yang semakin berorientasi pada energi baru terbarukan.
Ronny Afrianto, Wakil Presiden Komersialisasi Produk Niaga PT PLN (Persero) menyatakan “Eorbitel kita 2025–2034 itu hampir 76% itu porsinya adalah EBT. Jadi ini merupakan komitmen PLN tidak hanya dari sisi kiri saja, tapi dari sisi puluh kita juga berkomitmen untuk berproses menuju energi hijau.
Ini dibuktikan dengan porsi energi hijau dalam Eorbitel angkanya cukup segini, mencapai 76%.” Komitmen peningkatan bauran energi baru terbarukan tersebut turut diperkuat oleh implementasi di KEK Sei Mangkei yang telah mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) berkapasitas 2,4 MW dengan memanfaatkan biogas dari limbah cair kelapa sawit (POME) di sekitar kawasan, sebagai wujud konkret pemanfaatan energi bersih berbasis potensi lokal.
Melalui forum ini, komitmen untuk menjadikan ekonomi hijau sebagai mesin pertumbuhan baru semakin diperkuat, dengan penekanan pada implementasi konkret di sektor energi dan industri strategis nasional.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Dr. Ir. Nurdin Tampubolon, M.M., Founder dan Presiden Komisaris NT Corp; Hashim S. Djohohadikusumo, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi; serta sejumlah tamu undangan lainnya.(ah/nd/bw)
Sekretariat Jenderal Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus
Plt. Kepala Biro Investasi, Kerja Sama, dan Komunikasi
Bambang Wijanarko
Website: www.kek.go.id
X: @indonesia_sez
Email: info@kek.go.id
Instagram: @indonesia_sez
Tiktok: indonesia_sez







